Tuesday, December 08, 2009 2:51 AM
Keraton Pontianak Keraton Pontianak yang megah dengan struktur bangunan dari
kayu yang kokoh, didirikan oleh Sultan Syarief Abdurrachman Alqadrie pada tahun
1771. Keraton ini memberikan daya tarik khusus bagi para pengunjung dengan
banyaknya artefak atau benda-benda bersejarah seperti beragam perhiasan yang
digunakan secara turun-temurun sejak zaman dahulu. Disampaing itu, koleksi
Tahta, meriam, benda-benda kuno, barang pecah-belah, dan foto keluarga, yang
telah mulai pudar, menggambarkan kehidupan masa lampau.
Terdapat mimbar yang terbuat dari kayu, serta ada pula cermin antik dari
Perancis yang berada di aula utama yang oleh masyarakat setempat sering disebut
“Kaca Seribu”.
Sultan juga meninggalkan
harta-harta pusaka dan benda-benda warisan lainnya kepada anggota keluarga yang
masih ada, untuk dipelihara dan dirawat. Keraton Kadariah yang berada didaerah
kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur ini, dapat dicapai dalam waktu
kurang lebih 15 menit dari pusat Kota Pontianak.
keadaan keraton pontianak saat ini
Tuesday, December 08, 2009 2:12
AM
Gambaran kondisi Keraton Kadriyah
Pontianak setelah diungkapkan Sultan Pontianak, Baginda Sultan Syarif Abu Bakar
bin Syarif Mahmud Alkadrie, ternyata memancing sejumlah keprihatinan lainnya.
Bahkan Wali Kota Pontianak Buchary A Rahman diminta menanggapi persoalan
bangunan bersejarah tersebut, dengan mengalokasikan kucuran dana untuk
merehabnya.
Heriyanto, mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Provinsi
Kalbar memandang, telah sewajarnya Pemerintah Kota Pontianak memberikan
perhatian serius terhadap kondisi keraton yang saatnya untuk dibenahi. Dia
meminta Wali Kota Buchary A Rahman mencurahkan perhatiannya serta peduli
terhadap salah satu situs bersejarah peninggalan Kesultanan Pontianak di masa
lalu. "Terus terang, perhatian Pak Wali terhadap keberadaan keraton sangat
kecil, padahal ini kan nilai sejarah," tandas dia kepada Pontianak Post.
Keberadaan Kadriyah tak bisa dilepaskan dari berdirinya Kota Pontianak yang
diawali dengan dikukuhkannya Kesultanan Pontianak pada 1771 M. Berdiri tegaknya
bangunan istana yang kian hari kian dimakan usia, menimbulkan ketakutan
beberapa kalangan bahwa bangunan yang didirikan Sultan Syarif Abdurrahman
Alkadrie tersebut tak kuat menopang dirinya. Apalagi sebagaimana pernah
diungkapkan Sultan Syarif Abu Bakar kepada Pontianak Post beberapa waktu lalu,
70 persen pondasi bawah keraton tak dapat dipertahankan lagi. Sementara atap
keraton yang mencirikan bangunan di masa lalu diungkapkan dia telah mengalami
kebocoran di beberapa sisi.
Ketakutan tersebut tentu saja beralasan, dengan memandang beberapa bangunan
keraton yang tersebar di beberapa daerah di Kalbar kini telah menyisakan puing
akibat tak terjangkau perawatan. Sebut saja bangunan Istana Kerajaan Kubu,
Istana Kerajaan Sekadau, Istana Surya Negara Kerajaan Sanggau, Istana Kerajaan
Sukadana, serta Istana Kerajaan Simpang. "Ini kan merupakan aset nasional,
merupakan peninggalan sejarah yang memberikan potret Kota Pontianak di masa
lalu," ungkap dia.
Heriyanto berharap dibawah kepemimpinan wali kota yang kini dipimpin Budak
Pontianak, mestinya tak melupakan asal-usul berdirinya kota yang kini berusia
235 tahun ini. Di masa lalu, dia mengungkapkan, ketika Kota Pontianak dipimpin
orang-orang dari luar, perhatian masih tercurahkan. "Jangan sampai
bangunan keraton dibiarkan begitu saja," tandas dia sembari meminta agar
DPRD Kota Pontianak berperanan dengan memperjuangkan bangunan keraton. (ote)
Salah satu peninggalan bersejarah di kota Pontianak adalah Keraton Kadriyah.
Lokasinya tepat di pertemuan
Sungai Kapuas dan Sungai Landak.
Bangunannya terbuat dari Kayu
Belian (kayu besi) yang tetap kokoh, walau umurnya udah 300 tahun lebih.
Untuk mencapai kesana bisa di tempuh dengan perahu dari Aloon2, yang langsung
menuju ke keraton dan beberapa tempat lainnya di pinggir kapuas.
Atau dengan kendaraan darat, dari pusat kota, menyebrangi jembatan Kapuas,
beberapa puluh meter, belok kiri, masuk jalan kecil. Didepan Jalan ada Gapura
Selamat datang di Keraton Kadriyah. Kalau bulan2 November dan Desember seperti
sekarang ini, Jalan menuju Istana sering terendam banjir, jadi jangan
menggunakan mobil jenis sedan/ rendah.
Dalam kesempatan kesana minggu lalu, ada yg sedikit menggembirakan, Kondisi
Keraton sudah mulai di tata, sehingga kesan kumuh sedikit berkurang.
wawancara denganketurunan raja
Tuesday, December 08, 2009 2:12
AM
Wawancara ini kulakukan kepada
salah seorang keturunan keraton kadriah. Ini adalah tugas wawancaraku yang
pertama kali. Saat itu aku masih duduk di kelas 1 SMA. Namun karena masih
amatiran berkali-kali aku datang ke keraton tersebut. Hari pertama karena
ternyata kamera yang kupakai untuk mengambil gambar di sana tidak berfungsi
sebagaimana mestinya. Dan hari kedua karena kaset yang kami pakai pada saat
merekam pembicaraan saat itu tiba-tiba saja rusak. Namun akhirnya dengan segala
keterbatasan yang ada kami dapat menyelesaikan tugas ini.
1. Kapankah Keraton ini berdiri ?
Keraton Kadriah ini berdiri pada tahun 1781 dan pendirinya ialah Sultan Sy.
Abdurrahman Al Kadri
2. Sudah berapa tahunkah Keraton ini berdiri ?
Umur keraton ini sekitar 223
tahun
3. Apakah masih ada keturunan Sultan Sy. Abdurrahman Alkadri ?
Ada, namanya Ratu Perbu Wijaya
yang masih hidup, beliau adalah putri Sultan Sy. Abdurrahman yang masih hidup
berumur sekitar 100 tahun
4. Siapa sajakah turun temurun para Sultan kerajaan Pontianak ?
Turun temurun para Sultan
kerajaan Pontianak ialah :
? Sultan Sy. Abdurrahman Alkadri
memerintah pada tahun 1771 – 1808, setelah itu digantikan
? Sultan Sy. Kasim Alkadri memerintah
pada tahun 1808 – 1819, dan dilanjutkan kembali oleh
? Sultan Sy. Osman Alkadri
memerintah pada tahun 1819 – 1855
? Sultan Sy. Hamid I Alkadri
memerintah pada tahun 1855 – 1872
? Sultan Sy. Yusuf Alkadri
memerintah pada tahun 1872 – 1895, dan digantikan lagi oleh
? Sultan Sy. Muhammad Alkadri
memerintah pada tahun 1895 – 1944, kemudian karena putranya ditahan tentara
jepang
Jadi, untuk mengisi kekosongan
pemerintahan maka dinobatkanlah Sy. Thaha Alkadri sebagai Sultan ke – 7, dan
dilanjutkan kembali oleh Sultan Sy. Hamid II Alkadri. Memerintah pada tahun
1945 hingga 1978 dan Sultan Sy. Hamid II ini juga sebagai pencipta lambang
burung garuda yang dipakai sebagai alat pemersatu bangsa di Indonesia, beliau
meninggal pada tanggal 30 Maret 1978.
5. Apa saja benda-benda peninggalan yang ada di Keraton ini ?
Di Keraton ini ada banyak sekali
peninggalannya seperti kursi singgasana, tempayan, keris pusaka, tombak
penobatan, pedang, cermin seribu, baju kesultanan dan Al-qur’an yang ditulis
sendiri oleh Sultan Sy. Abdurrahman dan masih banyak lagi peninggalan lainnya.
6. Berapakah umur dari Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh Sultan sendiri ?
Umur Al-Qur’an yang ditulis
sendiri oleh Sultan sudah berumur 2 abad.
7. Mengapa disebut kaca seribu ? dan apakah kaca seribu ini diberi atau dibeli
?
Disebut kaca seribu karena,
pantulannya bisa memantulkan bayangan kita hingga ribuan kali. Kaca seribu ini
diberi oleh orang prancis pada tahun 1823.
8. Apakah ada adat istiadat di Keraton ini yang masih dijalankan ?
Ada, seperti acara perkawinan,
gunting rambut bayi, tepong tawar, dan lain-lain.
9. Apakah orang yang bukan orang keraton diperkenankan melakukan perkawinan di
keraton ?
Tidak boleh.
10. Dimana letak meriam yang menentukan letak istana Keraton ini ?
Berada tepat di depan Keraton ini
dan juga disebut sebagai meriam stimbol, disebut meriam stimbol karena meriam
inilah yang menentukan letak istana keraton ini.
11. Apa yang dimaksud dengan acara tepong tawar ?
Tepung tawar ialah acara
pembersihan keris pusaka oleh para ahli waris kesultanan Pontianak di Keraton
Kadriah.
12. Sultan keberapa sajakah yang ada di Pontianak ini ?
Yang ada di Pontianak ini ialah
Sultan ke-6 dan ke-7.
13. Mengapa keraton ini selalu dilambangkan lancang kuning ?
Dilambangkan lancang kuning
karena lancang kuning adalah alat transportasi laut tradisional kesultanan
Pontianak dan sekaligus menjadi lambang keraton ini.
14. Apakah guna lonceng yang ada di depan ?
Lonceng itu berguna bila ada
keadaan darurat maka akan dibunyikan
cerita singkat
Tuesday, December 08, 2009 2:12 AM
Di tepi sungai Kapuas kecil dan
Sungai Landak berdiri megah Keraton Kadriah. Sebuah istana yang berukuran 30 x
50 meter dan mempunyai 3 tingkat, merupakan istana yang terbesar di Kalimantan
Barat. Tidak jauh dari Keraton Kadriah ini menyerupai bangunan Meru di Bali,
berdiri menghadap kiblat mesjid Jami’ Sultan Pontianak, bersatu dengan sejarah
panjang leluhur Kesultanan Pontianak yang berasal dari kota Trim Hadral maut
negara Arab.
Sultan Abdurrahman memerintah hingga tahun 1808. setelah itu Sultan Sy. Kasim
Alkadri bin Sy. Abdurrahman Alkadri naik tahta dan memerintah hingga 1819.
Tanggal 14 bulan Rajab 1185 H,
bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 1781 dibangunlah tiang pertama kerajaan
Pontianak.
Pada tahun 1944 Sultan Sy. Muhammad Alkadri ditawa Jepang beliau wafat dalam
tawanan Jepang. Untuk mengisi kekosongan pemerintahan pada waktu itu maka
dinobatkan Sy. Thaha Alkadri bin Sy. Oesman Alkadri menjadi Sultan pada tahun
1945.
Dengan masuknya tentara sekutu
setelah mengalahkan Jepang, maka dinobatklanlah Sultan Sy. Hamid II Kadri
menjadi Sultan Pontianak, dan pada tahun 1950 maka kerajaan Pontianak
dihapuskan dan dilebur menjadi Propinsi Kalimantan Barat.
Adapun peninggalan-peninggalan dari keraton ini ialah meriam, kursi singgasana,
tongkat penobatan, pakaian raja, Alqur’an yang ditulis tangan oleh Sultan Sy.
Abdurrahman Alkadri sendiri, pedang, keris serta berbagai benda pusaka lainnya.
Sedangkan putri dari Sultan Sy.Muhammad Alkadri yang masih hidup hingga
sekarang ini ialah Ratu Perbu Wijaya yang berumur sekitar 100 tahun. Adat
istiadatnya pun hingga sekarang ini masih dijalanakan seperti acara perkawinan,
gunting rambut bayi, tepong tawar dan lain-lain. Tapi yang boleh menjalankannya
dikeraton hanyalah keturunannya selain itu tidak boleh.
Demikianlah cerita singkat tentang Keraton Kadriah semoga bermanfaat bagi kita
semua, wassalamu’alaikum wr. wb.